Payango.id Boalemo – Tradisi unik membangunkan sahur dengan suara tabuhan kentongan menggema di Kota Tilamuta pada awal Ramadhan 1446 H. Ratusan warga, mulai dari anak-anak hingga orang tua, tumpah ruah di jalanan untuk mengikuti tradisi Koko’o atau ketuk sahur, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Gorontalo, khususnya di Kabupaten Boalemo.
Gelaran Koko’o Gorontalo Boalemo kali ini berlangsung meriah pada Sabtu (1/3/2025), dimulai dari Lapangan Alun-alun Tilamuta hingga menuju titik akhir di Desa Pangi, Kecamatan Dulupi. Sepanjang ruas Jalan Trans Sulawesi, masyarakat antusias mengikuti iring-iringan sambil menabuh kentongan bambu, menciptakan suasana sahur yang penuh semangat dan kebersamaan.
Dari Tradisional ke Modern: Perjalanan 7 Tahun Koko’o Gorontalo Boalemo
Kegiatan ini digagas oleh para pemuda Desa Pangi dan telah berlangsung selama tujuh tahun sebagai upaya melestarikan budaya lokal. Ketua panitia, Afris Hodio, menuturkan bahwa tradisi ini awalnya hanya menggunakan alat-alat sederhana seperti bambu dan kaleng, namun kini sudah mulai berkembang dengan penggunaan alat modern, termasuk bedug dan sound system kecil.
“Alhamdulillah, kami dari pemuda Desa Pangi yang tergabung dalam keluarga kecil beduk sahur ‘Koko’o Gorontalo Boalemo’ telah menjalankan tradisi ini selama tujuh tahun setiap bulan Ramadhan. Ini adalah bentuk kecintaan kami dalam menjaga kelestarian budaya daerah,” ungkap Afris Hodio saat diwawancarai.
Dukungan Penuh dari Masyarakat dan Pemerintah
Kesuksesan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Afris mengapresiasi semua elemen yang telah membantu, termasuk masyarakat yang berpartisipasi dengan penuh semangat, aparat kepolisian yang mengawal jalannya acara, serta dukungan penuh dari pemerintah setempat.
“Kami sangat bangga dan berterima kasih atas apresiasi yang luar biasa dari masyarakat, pihak kepolisian yang telah menjaga keamanan, serta dukungan pemerintah yang selalu hadir dalam kegiatan ini. Semoga tradisi ini terus lestari dan semakin berkembang di tahun-tahun mendatang,” tutupnya.
Tradisi Koko’o Gorontalo Boalemo tidak hanya menjadi ajang membangunkan sahur, tetapi juga wujud kebersamaan dan kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal. Dengan semakin berkembangnya tradisi ini, diharapkan generasi muda terus menjaga dan melestarikannya sebagai bagian dari identitas budaya Gorontalo.
Penulis. Wahyu Abay